Selasa, 23 Februari 2010

psikologi remaja

kenakalan remaja

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Zaman yang semakin canggih dan modern ini, banyak masalah yang perlu di kupas secara mendalam. Salah satunya adalah permasalahan remaja. Remaja adalah cikal bakal penerus pejuangan bangsa. Bila remaja di negar ini kacau maka secara otomatis Negara kedepannya juga akan kacau. Maka dari itu perlu di perbincangkan masalah remaja.
Sebelum mengkaji lebih dalam tentang permasalahan remaja, perlu di ketahui terlebih dahulu apa itu remaja. Manurut Muss (Dalam W.S Sarlito.2001. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo) Remaja berasal dari bahasa inggris yaitu adolescere yang artinya tumbuh ke arh kematangan. Menurut Sanderowitz dan Paxman( Dalam W.S Sarlito. (2001. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo) Remaja dalam artian psikologis sangat berkaitan dengan kehidupan dan keadaan masyarakat di mana masa remajanya sangat panjang dan bahkan hampir tidak ada sama sekali. Kemudian menurut Piaget (www.google.com) secara psikologis remaja adalah usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa.
Remaja adalah masa kritis di mana mereka mengalami perubahan-perubahan, ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negative.
Menurut Verhaar,J.W.M (Verhar, J.W.M. 1989. Identitas Manusia. Yogyakarta: Kasinus)
Memperhatikan kejadian akhir-akhir ini, yakni timbulnya premanisme, kenakalan remaja dan penyalahgunaan rekayasa tumbuhan tertentu memperlihatkan adanya “ krisis jatidiri” yang tidak menemukan jawaban atas pertanyaan, siapakah aku ini? Hal itu tidak terlepas dari pandangan manusia sebagai substansi dan manusia sebagai makhluk yang mempunyai identitas

Hal ini lah yang membuat semua orang resah dan khawatir akan permasalahan remaja tersebut.
Dalam hal ini masa remaja merupakan masa di mana mereka sedang mencari identitas dan usaha mencari perasaan.


Menurut Ericson (Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan. Jakarta. Erlangga):

Dalam usaha mencari perasaan kesinambungan dan kesamaan yang baru, para remaja harus memperjuangkan kembali perjuangan tahun-tahun lalu, meskipun untuk melakukannya mereka harus menunjuk secara artifiasial orang-orang yang baik hati untuk berperan sebagai musuh, dan mereka selalu siap untuk menempatkan idola dan ideal mereka sebagai pembimbing dalam mencapai identitas akhir. Identifikasi yang sekarang terjadi dalam bentuk identitas ego adalah lebih dari sekadar penjumlahan identifikasi masa kanak-kanak.

Robert D Wirt And Peter F. Bringgs (Kartono, Kartini. 1985) menjelaskan There is evidence that juvenile delinquency is increasing both in terms of rate of denliquent behavior.

B. Rumusan masalah
Banyak hal yang perlu di bahas tentang remaja ini. Namun dalam kesempatan ini hanya bias di rumuskan beberapa masalah yang perlu di jelaskan, mengingat berbagai ketebatasan. Hal-hal yang akan di jelaskan antara lain :
Pengertian remaja di tengah era globalisasi
Pengaruh globalisasi terhadap perkembangan jiwa remaja
Macam-macam kenakalan remaja
Penyebab kenakalan remaja di tinjau dari sisi psikologi
Kiat mengatasi kenakalan remaja

C. Tujuan Penulisan
Adapum tujuan penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah dasar logika dan penulisan ilmiah. Makalah ini juga bertujuan agar bermanfaat bagi semua.
BAB II
PEMBAHASAN
Kenakalan Remaja Ditengah perkembangan zaman

Pengertian Kenakalan Remaja Di Tengah Era Globalisasi
Era globalisasi semakin dekat artinya dengan dunia akan menjadi satu. Suka tidak suka, Indonesia akan masuk ke dalam era globalisasi tersebut. Dalam era ini, iptek semakin berkembang, media massa semakin banyak hingga semakin mudah menembus jiwa masyarakat terutama remaja.
Menurut Drs. Ida Bagus Anom, M.pd, “Banyak pengaruh negatif yang di timbulkan karma adanya informasi dan perkembangan teknologi yang cepat tanpa batas, terutama pada perkembangan kehidupan remaja pada umumnya dan siswa di sekolah pada khususnya”.

Remaja sekarang sudah terkena pengaruh TV, majalah, Koran, bahkan internet. Jelas hal ini sangat mempengaruhi sikap, cara pandang, dan pola pikir manusia terhadap kehidupan secara menyeluruh baik dalam bidang politik pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya dan bidang lainnya. Robert M. Mac. Iver (dalam Kartono, Kartini. 1985) menyatakan bahwa “Berdasarkan data statistik, kenakalan remaja meningkat setiap tahunnya”. Peningkatan itu cukup mencemaskan dan jika di biarkan akan meningkat menjadi kejahatan dewasa (adult kriminal).
Seperti pada bidang budaya, pemasaran dan penyerapan budaya asing ini adalah secara senyap tapi membunuh. Akhirnya tanpa di sadari ia sudah mempengaruhi cara berfikir dan bertindak generasi muda.Budaya lepak dan budaya black metal yang hangat di perbincangkan pada hari ini, sebenarnya bukanlah suatu budaya yang mengejutkan, sebaliknya ia adalah suatu budaya yang sepatutnya di jangkau oleh para pemikir di negara.

pengaruh globalisasi terhadap perkembangan jiwa remaja
Rogers (1985) menyatakan bahwa “antara perubahan nyata yang berlaku pada masa remaja yaitu perubahan fisik, perubahan emosi dan pikiran, narcisma merupakan hal yang merujuk kepada ketagihan cinta dan ingin di cintai untuk mendapatkan kasih saying pada diri sendiri, dan menentang kekuasaan “.

Era globalisasi membuat jalan pikiran remaja jelas berubah. Lawrence konverg. (dalam WS Sarlito, 2001) Menyatakan”Kemampuan seseorang untuk menilai baik buruknya sesuatu tergantung pada penalaran yang bersangkutan”. Jadi kalau ada orang yang membandingkan pergaulan remaja dulu dan sekarang jelas tak berimbang.
Menurut Ira Murtiani S.H, “remaja sekarang sudah banyak terpengaruh TV, majalah, Koran, dan juga internet. Itu tidak sepenuhnya buruk. Hanya saja remaja sekarang lebih terbuka sehingga apabila terjadi sesuatu mereka langsung mengekspresikannya”.

Dalam era global sekarang ini, banyak perubahan keadaan dan tatanan yang membutuhkan kemampuan penyesuaian baru dan bisa berdampak negatif terhadap perkembangan jiwa masyarakat, remaja pada umumnya. Interaksi antar pribadi, terutama pada orang asing dengan latar belakan norma dan budaya yang berbeda, jelas akan meningkatkan tuntutan kemampuan penyesuaian diri yang berhubungan dengan derajat beratnya stressor psikososial di masyarakat.
Dalam kaitannya dengan stressor psikososial, ada empat macam sumber stress yaitu frustasi, konflik, tekanan dan krisis.
Yang dimaksud konflik disini adalah ketidak pastian perasaan akibat adanya dua atau lebih tujuan, kepentingan atau kekuatan yang berbeda satu sama lain. Konflik disini dapat berasal dari dalam diri indifidu itu sendiri, seperti remeja yang menikah dahulu sebelum sekolah selesai. Yang berasal dari luar, misalnya perperangan yang memakan waktu lama bahkan tak berujung.
Prof. DR.dr.H.Aris Sudiyanto, Sp.K.J., berpendapat bahwa “konflik berdarah kasat mata didepan para remaja tersebut, pasti sangat berpengaruh terhadap kondisi kejiwaan mereka”. Gumperz dan Gumpersz (1985) menyatakan bahwa “konflik sosial yang terjadi pada decade terakhir ini disebabkan oleh konflik etnik, kelas, bahasa atau agama”. Stewart (Dalam Moeliono.1985:45) berpendapat bahwa ”keanekabahasaan cenderung kearah stabilan sehingga bahasa dipakai secara berdampingan akan isi-mengisi dalam perubahan bermacam-macam fungsi tanpa persaingan”. Apabila konflik semacam itu berlanjut terus dalam tempo lama dan cukup mendalam, dapat mengakibatkan stress.
Selain masalah itu juga ada yang disebut kesadaran, yaitu salah satu fungsi kejiwaan yang memungkinkan indifidu mengadakan hubungan dengan lingkungan melalui panca indra dan diri sendiri melalui perhatian. Penyabab gangguan jiwa dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu gangguan fisik, biologic atau organic, gangguan mental, emosional atau kejiwaan dan gangguan sosial atau lingkungan. Penyebab gangguan fisik, biologic atau organic antara lain berasal dari faktor keturunan, kelainan pada otak, kecanduan obat dan alcohol dan sebagainya. Penyebab gangguan mental, emosional atau kejiwaan misalnya karena salah asuh, hubungan patologis diantara anggota keluarga disebabkan frustasi, konflik, tekanan krisis tentunya termasuk konflik dan krisis dibagian masyarakat akhir-akhir ini
Penyebab gangguan jiwa yang berasal dari lingkungan atau sosial dapat berupa stressor psikososial. Meskipun tidak setiap penyebab tersebut secara langsung menyebabkan sters atau gangguan jiwa.



Macam-Macam Kenakalan Remaja
Suatu hal yang menarik dalam kehidupan sehari-hari remaja selalu menjadi sorotan. Baik disekolah, dimasyarakat maupun dalam keluarga. Terlebih lagi para remaja itu sebagian besar anak yang terdidik. Maka banyak pihak kaget dan heran ketika mendengar seorang remaja usia 17 tahunan memperkosa gadis dibawah umur, mencuri, merampok, bahkan membunuh kedua orang tuanya sendiri.
Ruth Strang, (1968:6) menjelaskan bahwa “ A juvenile delinquency is an act of child or adolescent who breaks a law. When a child is old enough to know that he is doing wrong and he does it, that is being delinquent. A person under 21 who breaks the law is a juvenile delinquent”.

Selain itu remaja sendiri merasakan tuntunan hidup yang semakin kompleks dan tidak ringan. K. Lewin(Dalam WS Sarlito. 2001) Menyatakan”Dorongan-dorongan bergerak terus kesana kemari dalam bentuk tingkah laku remaja yang gelisah dan meletup-letup”. Disatu sisi mereka berhadapan dengan banyak teori atau idealisme, tetapi disisi lain mereka berhadapan dengan banyak kenyataan yang tidak sesuai dengan idealisme dan nalarnya.
Kurangnya wadah untuk mengaktualisasikan dirinya dalam hidup membuat remaja mencari sesuatu yang baru yang baik menurutnya. Diantaranya, perkelahian pelajar, mengkonsumsi narkoba, perilaku seksual dan sebagainya.

Perkelahian Pelajar
Perkelahian atau sering disebut tawuran, sering terjadi diantara perlajar.Bahkan bukan “hanya “ antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai kekampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja.
Dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan ini sering terjadi. Dari data kepolisian, terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus.
Dampak Perkelahian Pelajar
Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian misalnya, bila mengalami cidera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar disekolah. Terakhir, adalah yang paling dikhawatirkan oleh pemilik yaitu berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan itu adalah cara efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.
Pandangan Umum Terhadap Penyebab Perkelahian Pelajar
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja dalam hal perkelahian, dapat digolongkan kedalam dua jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Disini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti anggotanya, termasuk berkelahi.
Tinjauan Psikologi Penyebab Remaja Terlibat Perkelahian Pelajar
Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan-kecenderungan didalam diri indifidu dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya empat faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.
1. Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks disini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi dan semua rangsangan dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Pada remaja yang sering berkelahi, biasanya mereka mengalami konflik batin juga frustasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat.
2. Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan jelas berdampak pada anak. Anak ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal wajar ia melakukan kekerasan pula.
3. Faktor sekolah. Menurut Jhon Amos Camenius (dalam W.S Sarlito.2001) ”Pembagian sekolah berdasarkan teori perkembangan jiwa yang di dasarkan pada teori psikologis fakultas”. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relefan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas pratikum dan sebagainya) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan diluar sekolah bersama teman-temannya dan melakukan tawuran.
4. Faktor lingkungan. Davis (dalam W.S Sarlito.2001) menyatakn “Remaja berkembang sesuai dengan yang di harpkan oleh lingkungan budayanya”. Lingkungan diantara rumah dan sekolah yang remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transprortasi umum yang sering menomor sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota yang penuh kekerasan, semua itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung munculnya perilaku tersebut.



2. Perilaku Seksual
Menurut teori Freud(Dalam Corey, 1986) disebutkan bahwa “tabiat manusia pada asalnya jahat karena dipengaruhi oleh unsur-unsur rangsangan seksual, kuasa agresif dan tidak rasional yang wujud dalam diri manusia bagi tujuan menjaga survival perkembangan hidupnya”.

Unsur-unsur itu bertindak didalam diri manusia secara membabi buta (tidak sadar). Freud (dalam W.S Sarlito. 2001) menyatakan”Seksualitas pada remaja di mulai demgan perubahan tubuh dan faali yang menimbulkan tujuan baru dari dorongan seks yaitu reproduksi”. Kombinasi unsur-unsur itu dan konflik dimasa kecil yang tidak dapat diselesaikan pada masa itu akan menjadi penentu tabiat anak pada masa depan.
Pada saat ini, kebebesan bergaul sudah sampai pada tingkat yang mengkuatirkan. Pada remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Pengertian pacaran dalam era globalisasi inforamasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya di zaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan bahwa kenyataan sering tidak seperti kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan.
Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orang tua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan.
Orang tua hendaknya menjadi sahabat anak maksudnya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orang tua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja.
Menurut Otto rank (dlam W.S Sarlito.2001) “dorongan utama dari dinamika bukanlah dorongan seks yang di tekan dan di hambat oleh lingkungan atau super ego, tapi dorongan kehendak secara aktif diri sendiri dan mengubah lingkungan”.

Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Contohnya memberi tau tentang “Kematangan seksual pada wanita adalah menstruasi yang pertama kali, namun pada laki-laki tidak ada batas yang tepat” Jersild (dlm Oemar Malik,1995:26). Orang tua hendaknya memberikan teladan dalam menekankana bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan norma dan agama. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih muda menentukan sikap dalam bergaul.
Zelnik dan Kim (dalam W.S Sarlito.2001) “Remaja yang mendapat pendidikan seks tidak cenderung melakukan hubungan seks, tapi mereka yang belum pernah mendapat pendidikan seks cenderung lebih banyakmengalami kehamilan yang tidak di kehendaki”.

Namun, jika hal ini tidak teratasi akan berakibat kematian yang dilatarbelakangi virus HIV/AIDS. Menurut Loedin (dalam W.S Sarlito.2001) “Ada dua factor penyebab penyakit AIDS yaitu melalui seksdan melalui pemindahan darah”.
D. Penyebab Kenakalan Remaja ditinjau dari segi Psikologi Secara General
Apabila dikaji secar kritis, semakin berfariasinya bentuk-bentuk perbuatan anak yang menggambarkan penurunan kualitas moral, dapat kita duga terkait erat dengan kondisi yang kini telah terdesak oleh datangnya globalisasi. Hal ini mengakibatkan timbulnya kenakalan remaja. Corey(1986) menyatakan bahwa “tabiat manusia semula baik, rasional, bertanggung jawab dan berusaha mencapai kesempurnaan diri“.
“Orang muda punya hasrat yang sangat kuat dan mereka cenderung untuk memenuhi hasrat itu semua tanpa membedakannya dari hasrat-hasrat yang ada dalam tuybuh mereka, hasrat seksualah yang paling mendesak dan dalam hal inilah mereka tunjukan hilangnya control diri” Aristoteles (dalam W.S Sarlito.2001).

Tetapi manusia juga cenderung menjadi kecewa dan bermasalah apabila keperluan mencapai kesempurnaan diri dihalang seperti gagal mendapatkan kasih sayang, keselamatan dan seumpamanya. Dalam tubuh manusia diibaratkan sebagai maha raja yang mengarah dan mengawal tabiat manusia. Freud(Dalam W.S, Sarlito. 2001) menyatakan “hati dalam diri manusia dikenali sebagai super ego”. Dia menjadi perantaraan seolah-olah ‘Laluan Sutera’ (Slik Road) yang bertindak sebagai pembuat keputusan tabiat manusia sama. Ada baik atau buruk, betul atau salah.
Coppolilo (dalam W.S Sarlito . 2001) juga menyebutkan“Ego bertugas untuk memnghambat dan menyalurkan stimulus atau dorongan tertentu baik dari dalam maupun dari luar sekingga tercapai titik ambang tertentu yang menentukan cirri dari individu yang bersangkutan dalam berespons terhadap lingkungan”.

Ada beberapa hal yang mempelopori terjadinya kenakalan remaja antara lain:
Kebudayaan Industrialis
Era industri dewasa ini telah menimbulkan berbagai masalah, misalnya timbulnya kesenjangan sosial. Media masa, (media cetak dan elektronik) yang didukung oleh kemajuan teknologi industri semakin leluasa menembus seluruh lapisan masyarakat termasuk remaja. Iptek yang semakin berkembang dan SDM semakin menipis menimbulkan persaingan untuk mempertahankan hidup. Hal ini jelas akan mempengaruhi perkembangan jiwa remaja.


Allan schneiberg (dalam W.S Sarlito.2001) menyatakanBergesernya tatanan kehidupan itu di sebabkan oleh teknologi itu sendiri yang pada hakikatnya mengandung sifat menimbulkan masalah pada lingkungannya jika di gunakan secara meluas”.

2. Faktor keluarga
Faktor ini di pengaruhi oleh :
Status ekonomi orang tua yang rendah dan dhaif di mana anak membasar dalam keadaan terbiar.
Kehidupan orang tua yang bergelumbang dengan maksiat.
Orang tua lebih memperhatikan pekerjaan di bandingkan keluarganya.
Rumah tangga yang tidak kukuh dan bercerai berai
Nilai agama tidak kukuh dalam rumah tangga.

Zakiah darajat (1983) Menyatakan “yang di maksud dengan didiakan agama bukankah pendidikan agama yang di beri oleh guru-guru di sekolah saja, tapi yang penting adalah penanaman jiwa agama yang di mulai dari rumah tangga, semenjak anak masih kecil dengan cara membiasakan anak dengan tingkah laku dan aktivitas yang baik”.

3. Transisi Budaya
Pada masa ini, nilai-nilai budaya asing begitu mudah di peroleh, padahal tidak semua nilai-nilai itu relevan dengan kebutuhan dan norma bangsa. Pemahaman moral dan penghayatan budi pekerti menjadi modal penting bagi anak-anak terutama remaja agar kelak dapat hidup di dunia modern dengan tetap teguh mengemban prinsip-prinsip kemanusiaan, tidak terombang ambing oleh nilai-nilai yang menjerumuskan.
Fenomena kecenderungan menurunnya kualitas moral anak di duga juga berkaitan dengan budaya meniru kebiasaan buruk yang berasal dari Negara-negara industri maju. Remaja kita sekadar mencoba, meniru, dan lama-lama menjadi semacam gaya hidup. Makagiansar (1990) mengatakan bahwa “perlunya kesadaran tentang identitas budaya”, bahkan Emil salim (1990)menyatakan bahwa “upaya mempertahankan identitas merupakan prioritas yang harus diperjuangkan mati-matian dengan ciri utama keseimbangan antara aspek material dan spiritual”



4. Pengaruh Kawan Sepermainan
Di kalangan remaja,memiliki banyak kawan adalah merupakan suatu bentuk prestasi tersendiri. Dalam mangala sutta, Sang Budha bersabda:”tak bergaul dengan orang tak bijaksana,bergaul dengan mereka yang bijaksana,itulah berkahUtama”. Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Perumpamaan itu menunjukan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dari kepribadian seseorang khususnya ketika remaja. Untuk menghindari masalah itu, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orang tua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga si remaja tanpa paksaan.

Dalam Digha Nikaya III, 188, ”Sang Budha memberikan petunjukan tentang “Kriteria teman baik yaitu mereka yang memberikan perlindungan apabila kurang hati-hati, menjaga barang-barang dan harta apabila kita lengah, memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya, tidak pergi meniggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan, dan membantu sanak keluaga kita”.

Sebaliknya, Dalam Digha Nikaya III, 182, diterangkan pula “Kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi penjudi, orang tidak bermoral, pemabuk, penipu, dan pelanggar hokum.”


5. Pendidikan
Pakar psikologi konseling membuat berbagai teori untuk menjelaskan pembentukan tabiat manusia. Corey (1986) menyatakan bahwa “tabiat dan tingkah laku manusia terbentuk hasil dari pada proses pembelajaran dan evolusi perserikatan”. Tabiat manusia menjadi masalah apabila mereka menerima pembelajaran dan perserikatan yang salah, walaupun mereka sendiri yang menciptakan sistim pembelajaran atau membentuk perserikatan.

Sir Cyril Burt(1948) dalam bukunya “The Young Deliquent” menyatakan bahwa, ’’salah satu factor pendukung adalah keturunan (Heredity)’’. Hal ini bahwa seseorang tidak dapat terlepas dari keluarga terutama dari orang tua. Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orang tua kepada anak. Ketika anak berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak akan mulai memilih perguruan tinggi. Orang tua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan anak gemilang. Sekarang, masih banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anak memilih jurusan atau profesi yang baik menurut mereka tetapi tidak bagi anaknya dan pada akhirnya hanya akan ada kekecewaan yang melatar belakangi frustasi. Menurut sebuah teori yang dikemukakan oleh Corey(1986) disebutkan bahwa “tabiat manusia terbentuk dari sikap hidup yang ditentukan oleh ibu bapak”. Menurut Thomas Dick (Dalam W.S Sarlito.2001) ” Sejak umur 10 sampai 12 tahun orang tua menunjukan otoritasnya”. Semasa kecil anak akan meremehkan secara langsung apa saja percakapan dan perbuatan yang tayangkan oleh ibu bapak kepada mereka. Konflik akan berlaku apabila anak itu mencoba menilai sikap hidup yang lama atau menerbitkan sikap hidup yang baru hasil dari pada perkembangan emosi pikirannya dan pengaruh persekitaran.
Oleh karena itu, biarkanlah anak memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan atau pun bakat dan hobi si anak. Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah dan sesuai dengan hobinya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya bersekolah sesuai dengan pilihannya, sedangkan hobinya adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai dikerjakan.

Penggunaan Waktu Luang
Kegiatan dimasa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar pekerjaan rumah, selain itu mereka bebas tanpa kegiatan. Apabila waktu mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatannya. Apabila siremaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negativ, lingkungan dapat terganggu. Sering kali perbuatan negativ ini hanya terdorong rasa iseng saja.
Munculnya kegiatan iseng tersebut atas inisiatif siremaja sendiri, sering pula karena borongan teman sipergaulan yang kurang sesuai. Oleh karena itu, orang tua hendaknya memberikan arahan dengan penuh kasih saying bahwa sikap iseng negativ seperti itu akan merugikan dirinya sendiri, orang tua, maupun lingkungannya.

Uang Saku
Orang tua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya didik agar dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir.
Selain itu, dari segi pendekatan islam Muhammad Aljiasi (1976) menyatakan :
“terdapat empat peringkat nafsu yang mempengaruhi tabiat manusia yaitu nafsu Amarah merupakan nafsu yang senantiasa mendorong manusia melakukan kegiatan. Nafsu Lawwamah merupakan nafsu yang senantiasa menunjukan kelemahan dirinya, menilai tabiat masa lampau dan sedia keluar untuk memulakan kehidupan yang positif. Nafsu Mulhamah merupakan nafsu yang sudah menerima kebenaran dan keinsafan serta merasakan keseronokan membuat kebaikan dan benci kepada kejahatan. Sedangkan Nafsu Mutmainah adalah nafsu yang mencapai kedamaian dan kebahagiaan.’’
Seseorang ahli falsafah akhlak islam, Ibnu Maskawaih menyatakan bahwa “perkembangan nafsu manusia menghasilkan tiga peringkat tabiat manuasia yaitu manusia yang baik tabiatnya, manusia yang jahat tabiatnya, dan manusia yang berada dipertenghan tabiatnya”.
E Kiat Mengatasi Kenakalan Remaja
Konflik adalah keadaan yang tidak menyenangkan dan menekan perasaan. Didalam konflik, ada dua atau lebih kegiatan, kecenderungan atau tujuan yang berbeda. Bertentangan yang ingin dicapai pada saat yang sama. Secar kejiwaan, remaja dalam keadaan ragu, kesulitan atau tidak dapat memutuskan salah satu yang dipilih atau yang dipenuhi terlebih dahulu. Konflik kejiwaan pada remaja, apabila tidak disadari atau diketahui orang tua berisiko kuat terjadinya dampak negativ terhadap kesehatan jiwa.
Dr. Sarlito Wirawan(2001)menyatakan bahwa “Pendidikan rumah dalam hal ini dalam orang tua, memegang peranan penting”. H1rbert C. Quay(1965) dalam bukunya “juvenile Deliquency” menyatakan bahwa ”faktor yang mempengaruhi perkembangan sosal remaja ialah fakor keutuhan keluarga, utuh dalam struktur maupun itu dalam interaksi”.
Keluarga dan lingkungan yang harmonis dapat berperan sebagai penangkal problem emosional atau sters pada para remaja. Sebaiknya, keluarga yang retak, patologic dan penuh intrik atau konflik dapat berlaku sebagai stressor bagi remaja. Oleh karena itu yang sangat diperlukan, dalam era global sekarang ini adalah keharmonisan remaja dan lingkungan. Hal itu merupakan salah satu faktor penting agar dapat menangkal resiko negativ terhadap kesehatan jiwa remaja agar tidak terjadi kenakalan remaja dan secara global akan merusak kepribadian remaja.
Beberapa program yang dapat dilakukan untuk meredam kenakalan remaja, antara lain:

Pemulihan Sosial
Pemulihan anak nakal dan eks korban narkotika dilaksanakan melalui sistim panti. Untuk anak nakal dipanti sosial Marsudi Putra, dan untuk anak eks korban penyalah gunaan narkotika didalam panti sosial Marsudi Putra. Tujuan yang dicapai dari program ini, anak dapat kembali hidup secara wajar didalam lingkungan keluarganya, dan dapat kembali sekolah seperti dulu. Disamping melaksanakan program pemulihan langsung, Dinas Sosial juga memberikan Bantuan teknis kepada organisasi sosial yang menyelenggarakan program pemulihan bagi anak eks korban narkotika.
Pembinaan Remaja dan Karang Taruna
Program yang dilaksanakan adalah Pemberdayaan Organisasi sosial kepemudaan tingkat desa. Wujud kepemberdayaannya antara lain pembinaan/bimbingan dan pemberian bantuan/untuk pembinaan/bimbingan sosial dilaksanakan melalui penyuluhan-penyuluhan didaerah. Sedangkan untuk pembinaan usaha ekonomis produktif merupakan bimbingan kewirausahaan. Selain itu dilaksanakan juga semcam study banding antar daerah.
Tujuan dari program ini adalah pembinaan remaja agar mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang positif dan menghindari diri dari kegiatan negativ. Sasaran yang dicapai antara lain pengurus dan anggota karang taruna. Melalui sasaran ini diharapkan dapat mempunyai multiply efek pada remaja lainnya.
Pencegahan Narkoba dan Kesehatan Reproduksi
Program yang dilaksankan meliputi pencegahan narkoba, kesehatan reproduksi remaja dan kepedulian remaja dan lingkungan. Program ini dilaksankan dalam berbagai bentuk seperti penyuluhan, talk show, festifal film, lomba kreatifitas remaja hingga tukar- menukar pengiriman pemuda baik antar propinsi maupun antar remaja.
Penyuluhan yang dilakukan meliputi penyuluhan yang di dekolah-sekolah dan penyuluhan terpadu di sekitar. Auntuk penyuluhan di sekolah pelaksanaannya bekerja sama dengan sekolah-sekolah.
Pencegahan HIV/AIDS
Program yang dilaksanakan yaitu (1) kemah remaja peduli AIDS dan Narkoba (pameran kespro, seni musik, dll.), (2) pelatihan kesehatan reproduksi (3) Pelatihan remaja (esensi kesehatan reproduksi, IMS, HIV/AIDS dan narkoba ), (4) program dan kegiatan yang dilaksanakan pada dasarnya adalah health Promotion dan pengubahan perilaku masyarakat terutama pada masyrakat yang rawan narkoba.
Pembinaan Mental dan Spiritual Remaja
Program ini dilaksanakan oleh Remaja Masjid meliputi pembinaan mental
Dan spiritual remaja yang dilaksanakan melalui pendekatan seni baca shalawat dan peringatan hari besar islam, dan seni musik bernuansa islam. Tujuan dari pembinaan mental dan spiritual ini lebih di utamamkan kepada menyiarkan dan mengembngkan Syiar islam, termasuk didalam nya pencegahan terhadap tidak kenakalan dan ketentuan sosial lainnya.


Bab 3
Penutup
A. KESIMPULAN
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Mereka
Sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya inipun sering dilakukan melalui metoda coba coba walaupun melalui banyak kesalahan seperti timbulnya perkelahian antar pelajar, perilaku seksual. Kealahan yang ditimbulkan akan berdampak negatife kepada lingkungan, bangsa, dan remaja itu sendiri.
Keluarga dan lingkungan merupakan factor terpenting yang dapat berperan sebagai penangkal problem emosional para remaja. Jadi, apabila dimasa remaja mereka mendapatkan didikan yang salah atau pengaruh buruk dari keluarga dan lingkunganya, maka ketika beranjak remaja didikan dan pengarahan itu yang baik dari kelurga lingkungan, maka keika beranjak remaja didikan dan pengarahan ituakan membenyuk remaja yamg berpendidikan dan bfrkepribadian mulia.
B. SARAN
Untuk menghindari masalah ini, seyogianya masalah ini diantisipasi sedini mungkin sebelum terjadi kemungkinan terburuk yang tidak diinginkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar